Perbankan Terus Bidik Pelaku UMKM.
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah lama menjadi tulang punggung perekonomian di negara-negara Eropa. Namun di Indonesia skema dan pola pengembangan UKM seperti di Eropa sulit diwujudkan.
"Itu tidak mudah. Kami harus melakukan pengkajian dam inventarisir mengenai skema Eropa bagaimana yang sesuai dan cocok dengan karakter para pelaku UMKM Jabar," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah VI Jabar-Banten, Dian Ediana Rae, seusai serah terima posisi Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah VI, di Jalan Braga, Bandung, Jumat (3/5/2013).
Menurut Dian, dalam mengembangkan sektor UMKM, masalah pendanaan bukan menjadi unsur terpenting, karena ada beberapa hal penting lainnya seperti memperbaiki akses. Perbaikan akses itu tidak hanya pada debitur, tapi juga pada lembaga perbankan sebagai penyalur kredit. Misalnya, dalam hal penetapan suku bunga.
Agar sistem pembiayaan dan penyaluran kredit lebih merata, Kantor Perwakilan BI Wilayah VI terus melakukan monitoring lembaga-lembaga perbankan di Jabar. "Baik mengenai nilai penyaluran, hambatan, NPL, debitur, dan sebagainya," kata Dian.
Dalam hal suku bunga, ucapnya, BI terus berupaya menekan suku bunga kredit maupun deposito melalui efisiensi perbankan. "Tentunya, ini pun bukan pekerjaan mudah. Untuk itu, kami harus bertemu dan membahasnya dengan seluruh lembaga perbankan, baik swasta, BUMN, BUMD, termasuk BPR (bank perkreditan rakyat)," katanya.
Kepala Divisi Humas BI Pusat, Difi Johansyah, menambahkan, BI memang terus melakukan berbagai upaya dan terobosan untuk mendorong eksistensi para pelaku UMKM, di antaranya dengan menekan suku bunga perbankan.
Menurut Difi, sektor mikro saat ini memang menjadi target pengembangan bisnis perbankan di tanah air karena perbankan yang menggarap sektor mikro memperoleh margin yang cukup besar. "Perbankan yang sektor bisnisnya korporasi, kini bersaing dengan pasar modal. Jadi, tidak heran, banyak yang membidik sektor UMKM," ujarnya.
Hal ini terlihat pada banyaknya lembaga perbankan baik swasta, asing, BUMN, maupun BUMD yang menggulirkan produk kredit mikro. Namun, Divi mengakui, penggarapan sektor UMKM belum optimal karena di daerah-daerah masih banyak pelaku UMKM yang belum tersentuh perbankan. Karenanya BI berencana mengembangkan branchless banking.
"Saya kira, pola ini cukup efektif untuk memperkenalkan perbankan kepada masyarakat secara lebih luas," katanya. (win)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar